Senin, 01 Desember 2008

Kenapa saya tidak boleh mencuri??

Mencuri yang akan saya bahas adalah, mencuri harta yang bukan milik kita :!: dan sebatas harta jadi untuk mencuri kesempatan, pandangan, pemikiran, waktu itu tidak diulas disini.

Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. ( QS Al Maa-idah 5:38 )

Selain diancam dengan hukuman dunia, mencuri juga menimbulkan efek psikologi yang sangat hebat bagi si pencurinya.

Pertama, hidupnya tidak akan tenang. Ketakutan akan selalu menguntit di setiap langkah. Saat mendengar berita ada pencuri yang tertangkap tangan, di amuk massa, dibakar, di arak warga, bahkan hingga tewas, ketakutannya akan muncul. Ketakutan karena hukuman pemerintah. Baik potong tangan atau cambuk seperti yang diterapkan di NAD atau hukuman penjara satu-dua hari hingga tahunan akan menjadikannya paranoid terhadap aparat hukum dan peraturan. Belum lagi kemarahan/ kekesalan do’a ang kurang baik akan mengalir dari pihak yang anda curi, keluarga dan kerabatnya. Doa orang yang teraniaya itu didengar langsung oleh ﷲ.

Kedua, Hartanya akan tercemar. Harta hasil mencuri tidak akan berkah. Dimakan tidak mengenyangkan, di jual tidak akan menuguntungkan, dipakai tidak akan nyaman, disimpan tidak akan tenang. Apalgi jika dimakan, lalu makanan itu dibagikan ke keluarga, bukan kenyang dan nikmat yang akan akan dirasakan. Tetapi penyakit, perilaku buruk dari keluarga, isu, fitnah yang tidak pernah ditemui justru akan ramai berdatangan. Seolah-olah makanan itu menjadikan “magnet kesialan” bagi yag memakannya. Jangan harap mendapat pahala ketika shalat dengan sarung curian. Naudzubillah.

Ketiga, Seolah-olah, dengan mencuri, harta bertambah. Sebenarnya yang terjadi adalah kebalikannya. Kaitannya dengan poin kedua, harta akan menjadi racun bagi harta yang lain, terlebih lagi untuk jiwa raga. Harta-harta lain yang dimiliki akan “tertular” ketidak berkahannya. Dan cepat atau lambat, alih-alih menjadi kaya, namun justru semakin sulit menyimpan dan mencari harta.

Bagaimana dengan mencuri waktu, dan pemikiran :?: mencuri waktu, harus dilihat dalam konteks apa terlebih dahulu. Jika anda mencuri waktu ditengah kesibukan anda untuk membaca buku, mungkin sah-sah saja tergantung urgensi pekerjaan anda, jika anda seorang dokter dan di tengah-tengah operasi, hal ini pun bisa sangat salah :D . Mencuri pemikiran (ide), ini salah :!: jika anda tahu ide ini sudah anda sudah ada sebelumnya, anda tahu siapa yang pemilik awal ide ini, dan anda eksekusi ide ini tanpa sepengetahuan, dan dukungan pemilik ide yang sebenarnya. Namun jika anda memikirkan tetnang sesuatu dan melakukannya dan di belahan dunia lain ternyata ada yang mempunyai ide serupa sama, bahkan identik, dan mungkin lebih dulu dari anda, saya rasa ini-sah-sah saja. Bisa jadi anda menangkap broadcast ide dari orang itu. Hal ini sangat mungkin dengan pemahaman telepati. Jika pencurian ang anda lakukan adalah salah, maka ketiga hal diatas tetap berlaku.

Bertaubat, kembalikan harta hasil mencuri, dan meminta maaf kepada pihak yang telah dirugikan. Urusan bagaimana mereka akan memperlakukan, harus siap, karena itu koseskuensi yang telah dipilih sendiri. Allah akan mengampuni setiap taubat yang benar.

Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tiada akan menyekutukan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang. ( QS Al Mumtahanah 60:12 )

Selengkapnya...

Jangan-jangan Kisanak Klepto?

Pernahkah Kisanak atau Nyisanak tanpa sadar memasukkan barang milik teman ke dalam tas sendiri? Kemudian, ketika sadar, Kisanak baru bingung, ini barang milik siapa? Kemudian Kisanak baru ingat itu adalah barang teman Kisanak. Nah, apakah Kisanak temasuk Klepto?

Kleptomania merupakan salah satu macam gangguan kontrol diri. Ganggun tersebut biasanya ditunjukkan dengan perilaku mencuri benda-benda yang umumnya tidak penting. Seorang klepto yang benar-benar klepto, bukan kleptopet (klepto karena kepepet) sebenarnya tidak menaruh perhatian pada barang yang dicurinya. Bahkan, barang tersebut justru sering dibuang atau diberikan kepada orang lain.

Seorang klepto dalam mencuri disebabkan karena keinginannya untuk mencuri, bukan keinginan untuk memiliki. Motivasi terbesarnya adalah menghilangkan ketegangan pada dirinya dan mencari rasa sensasi. Klepto dewasa biasanya sadar kalau dirinya adalah seorang klepto. Selain mencuri di toko, sebagian klepto biasanya mencuri baran-barang yang ia tertarik saja.

Selengkapnya...

Kejujuran

Arti jujur

Jujur jika diartikan secara baku adalah "mengakui, berkata atau memberikan suatu informasi yang sesuai kenyataan dan kebenaran". Dalam praktek dan penerapannya, secara hukum tingkat kejujuran seseorang biasanya dinilai dari ketepatan pengakuan atau apa yang dibicarakan seseorang dengan kebenaran dan kenyataan yang terjadi. Bila berpatokan pada arti kata yang baku dan harafiah maka jika seseorang berkata tidak sesuai dengan kebenaran dan kenyataan atau tidak mengakui suatu hal sesuai yang sebenarnya, orang tersebut sudah dapat dianggap atau dinilai tidak jujur, menipu, mungkir, berbohong, munafik atau lainnya.


Kenapa harus jujur?

Saya sering mendengar orang tua menasehati anak supaya harus menjadi orang yang jujur. Dalam mendidik dan memotivasi supaya seorang anak menjadi orang yang jujur, kerap kali dikemukakan bahwa menjadi orang jujur itu sangat baik, akan dipercaya orang, akan disayang orang tua, dan bahkan mungkin sering dikatakan bahwa kalau jujur akan disayang/dikasihi oleh Tuhan. Tapi setelah mencoba merenungkan dan menyelami permasalahan kejujuran ini, saya masih merasa tidak mengerti: "Kenapa jadi orang harus jujur?"

Umumnya jawaban yang saya dapat adalah bahwa kejujuran adalah hal yang sangat baik dan positif, dan kadang saya juga mendapat jawaban bahwa "Pokoknya jadi orang harus jujur!"

Jawaban-jawaban tersebut sampai saat ini memang sudah saya anggap "benar", tapi saya masih selalu tergelitik untuk terus mempertanyakan: "Kenapa orang harus jujur? Apakah baik dan positifnya? Lalu bagaimana juga jika dikaitkan dengan proses kehidupan kita?"


Bagaimana bersikap jujur

Selain pertanyaan - pertanyaan diatas, selanjutnya dalam benak saya timbul pertanyaan: " Bagaimanakah kejujuran itu dapat dipraktekkan dalam sehari-hari, serta bagaimanakah sikap kita sebagai (dibaca: agar dapat menjadi) seorang yang jujur?"

  • Apakah kita sama sekali tidak boleh berbohong?
  • Dan mungkinkah kita selalu jujur dalam kehidupan sehari-hari ini?
  • Ataukah masih ada toleransi bagi kita untuk berbohong dalam hal-hal tertentu atau demi kepentingan tertentu?
Nah, sekali lagi saya mengajak para pembaca untuk merenungkannya bersama!


Contoh yang "Lucu" (dibaca: tidak jujur)

Dalam kehidupan sehari-hari, saya sering melihat (bahkan juga ikut terlibat) dalam berbagai macam bentuk aktivitas interaksi sosial dimasyarakat, yang justru kebanyakannya adalah wujud realisasi dari sikap tidak jujur dalam skala yang sangat bervariasi, seperti:

Sering terjadi, orang tua bereaksi spontan saat melihat anaknya terjatuh dan berkata "Oh, tidak apa-apa! Anak pintar, enggak sakit, kok! Jangan nangis, yach!".

Menurut saya, dalam hal ini secara tidak langsung si-anak diajarkan dan dilatih kemampuan untuk dapat "berbohong", menutup-nutupi perasaannya (sakit) hanya karena suatu kepentingan (supaya tidak menangis).

Selain itu saya juga sering melihat dan mengalami kejadian seperti: Saat seseorang bertamu kerumah orang lain, ketika ditanya: " Sudah makan, belum?", walaupun saya yakin tawaran sang tuan rumah "serius" biasanya dengan cepat saya akan menjawab "Oh, sudah!! Kita baru saja makan ", padahal sebenarnya saya belum makan.

Dalam lingkungan usaha / dagang, kejujuran sering disebut-sebut sebagai modal yang penting untuk mendapatkan kepercayaan. Akan tetapi sangat kontroversial dan lucunya kok dalam setiap transaksi dagang itulah justru banyak sekali kebohongan yang terjadi. Sebuah contoh saja: penjual yang mengatakan bahwa dia menjual barang "tanpa untung" atau "bahkan rugi" hampir bisa diyakini pasti bohong.

  • Nah, jika demikian, lalu dimanakah letaknya kejujuran itu?
  • Atau bagaimanakah kejujuran yang dimaksud tersebut dapat diaplikasikan dalam dunia sehari-hari?

  • Apakah belajar mengejar Kesempurnaan hidup harus tidak pernah berbohong sama sekali?
  • Lalu bagaimanakah kita dapat menjalani hidup ini yang juga mau tidak mau "harus" bertopeng?
  • Apakah mungkin, kita bisa tidak pernah berbohong sama sekali dalam hidup ini?
Pernah saya mencoba meyakinkan diri bahwa saya memang sudah "Jujur", tapi kemudian akhirnya saya kesulitan menjawab pertanyaan: "Apakah saya tidak membohongi diri sendiri?"

Lalu bagaimanakah sebenarnya? Nah, semoga para pembaca bisa memberikan jawabannya (tentunya jawaban yang jujur , lho!).


Selengkapnya...

Rabu, 26 November 2008

Basmi Virus Amburadul

Ringkasan ini tidak tersedia. Harap klik di sini untuk melihat postingan. Selengkapnya...

video membangun